Inovasi "KAPARU" Karang Taruna Desa Padangasri Bekerjasama dengan SLB B Pertiwi

KABUPATEN MOJOKERTO – Kreativitas dalam bidang pendidikan dapat tumbuh dari lingkungan sekolah sekaligus berkembang melalui peran aktif masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh Khoiri Nuriati, S.Pd., Gr., pendidik di SLB B Pertiwi Kota Mojokerto yang juga aktif sebagai anggota Bidang Pendidikan dan Pelatihan Karang Taruna Trisula Desa Padangasri, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Melalui kepeduliannya terhadap kebutuhan belajar peserta didik, Khoiri mengembangkan inovasi media pembelajaran KAPARU (KArtu PApan seRu).
KAPARU merupakan media pembelajaran berbasis permainan yang dikembangkan untuk menciptakan kegiatan belajar yang lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan. Media ini memadukan papan permainan dengan berbagai kartu yang dapat berisi soal, jawaban, reward, punishment, dan konsekuensi permainan, serta didukung penggunaan spinner, timer, dan barcode/QR Code. Kombinasi tersebut memungkinkan peserta didik tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi juga terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
Menariknya, KAPARU dikembangkan dengan memanfaatkan bahan sederhana dan barang bekas. Bagian leher dan tutup botol bekas dimanfaatkan sebagai komponen pada papan untuk meletakkan dan mengunci kartu. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat diolah melalui kreativitas menjadi media pembelajaran yang memiliki nilai guna dan nilai edukatif.
“KAPARU berawal dari kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Saya ingin menghadirkan media yang tidak hanya membantu menyampaikan materi, tetapi juga membuat peserta didik lebih tertarik, aktif, dan merasa senang ketika belajar. Bahan yang digunakan pun sederhana, salah satunya memanfaatkan leher dan tutup botol bekas,” tutur Khoiri.
Pada awal pengembangannya, KAPARU digunakan untuk mendukung pembelajaran peserta didik SMA tunarungu di SLB B Pertiwi Kota Mojokerto. Gagasan tersebut muncul ketika ditemukan adanya peserta didik yang mulai kurang tertarik terhadap materi tertentu, terutama materi yang dianggap sulit atau kurang menarik. Berdasarkan pengamatan dalam proses pembelajaran, peserta didik menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi ketika kegiatan belajar menghadirkan unsur permainan, tantangan, rasa penasaran, dan persaingan yang sehat.
Dalam penerapannya, KAPARU memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif. Spinner dapat digunakan untuk menentukan giliran bermain secara acak, sementara kartu dan barcode/QR Code menghadirkan soal maupun informasi yang harus diselesaikan peserta didik. Penggunaan reward dan punishment menambah unsur tantangan, sedangkan timer dapat digunakan untuk melatih konsentrasi serta kemampuan menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan. Dengan mekanisme tersebut, proses pembelajaran dapat dikemas menjadi aktivitas belajar sambil bermain tanpa meninggalkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Kelebihan KAPARU juga terletak pada sifatnya yang fleksibel dan dapat dimodifikasi. Isi kartu tidak terpaku pada satu mata pelajaran maupun satu jenjang pendidikan. Guru dapat mengganti soal, jawaban, gambar, maupun aktivitas sesuai dengan materi, usia, kemampuan, karakteristik, dan kebutuhan belajar peserta didik. Pada anak usia dini dan kelas awal, penggunaan media juga dapat disederhanakan melalui aktivitas mengenal gambar, huruf, angka, warna, mencocokkan kartu, serta aktivitas memasang dan memutar tutup botol yang sekaligus dapat mendukung latihan motorik, koordinasi, ketelitian, konsentrasi, dan fokus.
Fleksibilitas tersebut membuka peluang KAPARU untuk tidak hanya dimanfaatkan di lingkungan pendidikan khusus. Sebagai bagian dari kontribusi di bidang pendidikan dan pelatihan melalui Karang Taruna Trisula Desa Padangasri, KAPARU juga dapat diperkenalkan dan diterapkan dengan penyesuaian materi pada lembaga pendidikan yang berada di Desa Padangasri, seperti Pos PAUD, Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD). Materi dan mekanisme permainan dapat disederhanakan atau dikembangkan sesuai jenjang sehingga masing-masing pendidik dapat memanfaatkan konsep KAPARU berdasarkan kebutuhan peserta didiknya.
Penerapan KAPARU di lingkungan Desa Padangasri sekaligus dapat menjadi salah satu bentuk sinergi antara pendidik, satuan pendidikan, dan Karang Taruna dalam mendukung kegiatan pendidikan masyarakat. Karang Taruna tidak hanya memiliki ruang untuk bergerak dalam kegiatan sosial kepemudaan, tetapi juga dapat berkontribusi melalui pengembangan kreativitas, berbagi praktik baik, dan penguatan kegiatan pendidikan bagi anak-anak di lingkungan desa.
“Harapannya KAPARU tidak berhenti digunakan di tempat saya mengajar. Karena konsep dan materinya dapat disesuaikan, media ini juga bisa dimanfaatkan oleh Pos PAUD, TK, maupun SD di Desa Padangasri. Dengan media sederhana, anak-anak tetap dapat memperoleh pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan,” tambah Khoiri.
Melalui KAPARU, Khoiri Nuriati, S.Pd., Gr., sebagai pendidik di SLB B Pertiwi Kota Mojokerto sekaligus anggota Bidang Pendidikan dan Pelatihan Karang Taruna Trisula Desa Padangasri, berupaya menghubungkan inovasi yang lahir dari pengalaman pembelajaran di sekolah dengan kebermanfaatan yang lebih luas di masyarakat. Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas, pemanfaatan barang bekas, teknologi sederhana, serta kepedulian terhadap kebutuhan peserta didik dapat dipadukan menjadi media pembelajaran yang adaptif dan mudah dikembangkan.
Kehadiran KAPARU diharapkan dapat menjadi salah satu praktik baik yang mendorong semangat inovasi pendidikan di lingkungan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Pos PAUD, TK, dan SD di Desa Padangasri, inovasi ini berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas sekaligus memperkuat peran Karang Taruna Trisula Desa Padangasri dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan kreativitas generasi muda di tingkat desa.

